Jumat, 12 Juli 2019

20060000 History (6)
.
History of Khasoes: 2006
.
Admin lupa ini di #dojang mana...
Yang pasti ini foto pas atraksi MOS.
.
--------------------------------------------------------------------
Kuy, gabung latihan di MKTC.
.
Moners Khasoes Taekwondo Club (MKTC)
Pendaftaran dan info lebih lanjut:
.
WA: 0895 3677 2 9190 / 0821 1219 0693
.
Instagram: https://www.instagram.com/mktcpusat/
https://khasoes-club.blogspot.com
Surel: monerskhasoes@gmail.com
Youtube: Khasoes Taekwondo
.
#moners #khasoes #taekwondo #bekasi #monerskhasoes #monersbekasi #khasoestaekwondo #mktc #beladiri #martialarts #jawabarat #indonesia #pbti #kukkiwon #korea #wtf #태권도 #무술 #무도 #국기원 #武术 #武道 #跆拳道 #テコンドー #التايكوندو #فنونالدفاععنالنفس #الدفاع
.
Posted by: @okienias

Sabtu, 29 Juni 2019


.
History of Khasoes: 2006
.
Momen latihan di #smp3bekasi .
.
Maaf kalo ada yang salah tag.
.
Pada masa ini, nama MKTC belum ada. Nama waktu itu adalah “Moners Bekasi”. Nama “Khasoes” adalah nama beken yang digunakan saat mengikuti kejuaraan-kejuaraan.
.
Kuy, gabung latihan di MKTC.
---
Moners Khasoes Taekwondo Club (MKTC)
Pendaftaran dan info lebih lanjut:
.
WA: 0895 3677 2 9190 / 0821 1219 0693
.
https://khasoes-club.blogspot.com
Surel: monerskhasoes@gmail.com
Youtube: Khasoes Taekwondo
.
#moners #khasoes #taekwondo #bekasi #monerskhasoes #monersbekasi #khasoestaekwondo #mktc #beladiri #martialarts #jawabarat #indonesia #pbti #kukkiwon #korea #wtf #태권도 #무술 #무도 #국기원 #武术 #武道 #跆拳道 #テコンドー #التايكوندو #فنونالدفاععنالنفس #الدفاع
.
Posted by: @okienias

Selasa, 28 Mei 2019

Kunjungi blog kami ya: https://khasoes-club.blogspot.com
-------------------------------------
Moners Khasoes Taekwondo Club (MKTC)
Pendaftaran dan info lebih lanjut:
WA: 0821 1219 0693 / 0895 3677 2 9190
Instagram: https://www.instagram.com/mktcpusat/
https://khasoes-club.blogspot.com
Surel: monerskhasoes@gmail.com
Youtube: Khasoes Taekwondo
#moners #khasoes #taekwondo #bekasi #monerskhasoes #monersbekasi #khasoestaekwondo #mktc #beladiri #martialarts #jawabarat #indonesia #pbti #kukkiwon #korea #wtf

Kamis, 23 Mei 2019

.
---العربية---------------------------------
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
.
---Bahasa Indonesia---------------------------------
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
.
---한국어---------------------------------
고난이 있으되 구원을 받을 것이라,
실로 고난이 있으되 구원을 받을 것이라.
.
---English---------------------------------
With hardship comes ease.
With hardship comes ease.
------------------------------------
Q.S. al-Insyirāh (94): 5 – 6
------------------------------------
#sesungguhnya #sesudah #kesulitan #kemudahan
#hardship #comes #ease
#고난 #구원
.
Moners Khasoes Taekwondo Club (MKTC)
Pendaftaran dan info lebih lanjut:
WA: 0821 1219 0693 / 0895 3677 2 9190
Instagram: @mktcpusat
https://khasoes-club.blogspot.com
Surel: monerskhasoes@gmail.com
Youtube: Khasoes Taekwondo
#moners #khasoes #taekwondo #bekasi #monerskhasoes #monersbekasi #khasoestaekwondo #mktc #beladiri #martialarts #jawabarat #indonesia #pbti #kukkiwon #korea #wtf
Moners Khasoes Taekwondo Club (MKTC)
Pendaftaran dan info lebih lanjut:
WA: 0821 1219 0693 / 0895 3677 2 9190
Instagram: @mktcpusat/
https://khasoes-club.blogspot.com
Surel: monerskhasoes@gmail.com
Youtube: Khasoes Taekwondo
#moners #khasoes #taekwondo #bekasi #monerskhasoes #monersbekasi #khasoestaekwondo #mktc #beladiri #martialarts #jawabarat #indonesia #pbti #kukkiwon #korea #wtf

Rabu, 22 Mei 2019

Para Sabeom, Saboem Nim, dan Master.
.
Janji Taekwondo #3: "Menghormati pengurus, pelatih, senior, dan sesama Taekwondoin, dalam mengembangkan Taekwondo Indonesia".
.
Pict from @samurai_concept .
.
Moners Khasoes Taekwondo Club (MKTC)
Pendaftaran dan info lebih lanjut: 082112190693/ 0895367729190
https://khasoes-club.blogspot.com
#moners #khasoes #taekwondo #bekasi #monerskhasoes #monersbekasi #khasoestaekwondo #mktc #beladiri #martialarts #jawabarat #indonesia

Selasa, 21 Mei 2019





Jangan merasa paling hebat ~Sabeum Stephanus Soesanto

#taekwondo #indonesia #seoul#korea #blackbelt #fighter

---

Sumber: @axcel_audrey On frame: @stephanussoesanto ---

Pendaftaran dan info lebih lanjut: 082112190693/ 0895367729190

https://khasoes-club.blogspot.com

#moners #khasoes #taekwondo#bekasi #monerskhasoes#monersbekasi #khasoestaekwondo#mktc #beladiri #martialarts#jawabarat #indonesia

Senin, 16 Januari 2017

DOJANG PUSAT

Moners Khasoes Taekwondo Club (MKTC)
Dojang Pusat

Membuka pendaftaran Taekwondoin baru



Program Kami:
- Kelas Reguler (anak-anak/ remaja, putra/ putri)
- Beladiri Praktis
- Muaythai + MMA
- Grup/ Semi Privat
- Privat
- Privat (in house training)
- Beladiri Wanita
- Kegiatan Ekstra kurikuler (Ekskul) Sekolah



Program Khusus (GRATIS, khusus anggota):
- TC (Training Center), khusus atlet/ calon atlet Kyorugi, Poomsae, dan Demo (atraksi)
- Latihan Sonbae (senior) dan Sabeom (pelatih)
- Latihan gabungan
- Gasshuku (Hapsuk)



Investasi:
Pendaftaran: GRATIS (Seragam latihan: Rp. 250.000,-)
Biaya bulanan:
     Kelas Reguler           Rp. 150.000,-
     Beladiri Praktis         Rp. 150.000,-
     Muaythai + MMA     (segera dibuka)
     Grup/ semi privat      Rp. 1.500.000,- per grup
     Privat                         Rp. 1.500.000,- per orang
     Privat (in house training)     Rp. 1.500.000,- per orang + transport pelatih
     Beladiri wanita          Rp. 150.000,-
     Ekskul sekolah          (sesuai MoU)

MKTC juga menjual perlengkapan, peralatan, dan aksesoris Taekwondo



Fasilitas lengkap:
- Indoor
- Matrass
- Pelindung lengkap (Hugo, Sinca, dll)
- Cingbed
- Full music
- Sirkulasi udara dan ventilasi alami
- P3K
- Sistem mentor (bimbingan, konsultasi, pengarahan prestasi oleh pelatih khusus)
- Pengajian/ pembinaan ruhani dan mental (khusus muslim)
- dll.



Pendaftaran:
- Langsung datang ke lokasi
- Mengisi formulir
- Serahkan fotocopy akta lahir dan KTP (untuk anak-anak, KTP orang tua)
- Serahkan surat keterangan sehat dari dokter
- Membayar uang seragam dan iuran bulanan bulan pertama



Informasi lebih lanjut:
0857 1612 0064
0857 1509 3137
http://khasoes-club.blogspot.com
Instagram: @mktcpusat
atau datang ke sekretariat/ dojang.



Alamat Dojang dan Sekretariat:
Ruko Premier Serenity, Blok J/ No. 06
Jl. KH. Agus Salim, No. 50
Kel. Bekasi Jaya
Kec. Bekasi Timur
Kota Bekasi
(dari SMA Negeri 1 Bekasi, ± 300 m ke arah utara)

Jam buka sekretariat: Senin – Jumat, 09:00 – 17:00
Jam buka dojang (latihan): Setiap hari, 08:00 – 21:30



Peta lokasi:

Peta lokasi (alternatif):

Rabu, 23 November 2016

Foto Bulan Ini



Informasi lebih lanjut, pendaftaran, dsb, hubungi:
0857 1612 0064

Instagram: @mktcpusat

Alamat Dojang Pusat:
Ruko Premier Serenity, No. J06
Jl. KH. Agus Salim
Kel. Bekasi Jaya, Kec. Bekasi Timur, Kota Bekasi
(dekat SMA N 1 Bekasi)








Jumat, 04 Maret 2016

Khasoes untuk Kota Bekasi



Tepat tanggal 17-20 Februari 2016, Pengprov TI Jawa Barat mengadakan event resmi yaitu Kejurda 2016 yang bertempat di GOR Padepokan Volly, Sentul, Kab. Bogor. Tujuan event ini di selenggarakan adalah untuk menyaring atau menseleksi atlit dari berbagai daerah di Jawa Barat dan mewakili Provinsi Jawa Barat pada PON 2016. Khasoes Kota Bekasi sendiri menurunkan 5 atlitnya untuk bergabung bersama Taekwondo Kota Bekasi untuk bertanding dalam Kejurda 2016, yaitu Bagus Suradi (Over 87kg), Safira Nurunnazma (Under 62kg), Khansa Syafitri (Senior Poomsae Individual Female), Gilang & Sabathini Anggi (Poomsae Pair). Dalam kesempatan ini, mereka membawa pulang 1 Emas & Piala Atlit Terbaik Senior Putri (Safira Nurunnazma) dan 1 Perunggu (Bagus Suradi), sedangkan Khansa Syafitri lolos ke babak Final dan Gilang & Anggi harus kalah di penyisihan. Taekwondo Kota Bekasi pun membawa 9 Medali & 1 Piala Atlit Terbaik Senior Putri (1 Emas, 1 Perak, dan 7 Perunggu).

Setelah melewati event Kejurda 2016, Taekwondo Kota Bekasi akan mempersiapkan beberapa atlit untuk bertanding di POPDA 2016 dan PORDA 2018.

Senin, 12 Januari 2015

Tentang Gie

Moners didirikan oleh Master Simon. Tapi Moners Khasoes BUKAN milik Master Simon.
Khasoes dibangun oleh Sbm Nim Sahrul. Tapi Khasoes BUKAN milik Sbm Nim Sahrul.
Khasoes pun BUKAN milik Sbm Okie.
Kami sudah tua. Kini, kami amanahkan pada kalian.

KHASOES adalah milik PEMUDA!
Kepada KALIAN, kami berharap!



Semoga, kisah Gie berikut, dapat memberikan inspirasi bagi kalian.

(sumber: http://www.andriewongso.com/articles/details/14204/Tentang-Gie)

“Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau, kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia.”

Itulah sepenggal rangkaian kalimat Soe Hok Gie. Ia pemuda keturunan Tionghoa, yang berperan serta menjadikan Indonesia berada dalam pembabakan sejarah. Jakarta, menjadi awal kisahnya. Tepat pada 17 Desember 1942, hari kelahirannya. Gie, begitu biasa dia dipanggil, menjelma sebagai bocah yang penuh dengan pemikiran kritis. Anak keempat dari lima bersaudara ini, memang sangat pendiam. Dari kecil, buku dan catatan tulisannya yang menemani harinya.

Ketika duduk di bangku menengah pertama (SMP), Gie sempat mengkritik gurunya, hingga memancing kemarahan sang guru. Alhasil nilai Gie pun dikurangi. Karakternya yang keras dan penuh pemikiran, membuat kemampuannya dalam mengemukakan pendapat semakin terasa. Saat beranjak remaja hatinya tersentak, melihat pengemis yang memakan kulit buah mangga. Padahal tak jauh dari tempat sang pengemis, terdapat bangunan besar tempat paduka dan istrinya tertawa riang.

Pernah suatu ketika, pemerintah mengharuskan pergantian nama bagi para suku non pribumi. Gie bersikukuh tidak mau mengganti namanya. “Apalah arti sebuah nama?” ucap Gie kepada kakaknya Arif Budiman (Soe Hok Djin) yang membujuknya. Gie pun selalu mengatakan hanya ingin menjadi orang bebas yang idealis.

Setelah melewati pendidikan SMA di Kanisius. Gie melanjutkan sekolah tingginya, di Universitas Indonesia, Fakultas Sastra-Jurusan Sejarah. Di “kolam kuning” inilah, Gie bersama teman-temannya berada pada gardu terdepan untuk menggulingkan kekuasaan yang tidak berpihak kepada rakyat. Salah satunya ketika meletus demonstrasi besar di Jakarta tahun 1966, yang dikenal sebagai Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat).

Serangannya terhadap pemerintahan saat itu terus bergemuruh. Gie dikenal sebagai aktivis yang paling berprinsip. Karena hanya Gie-lah, yang bertahan terhadap penawaran kekuasaan oleh pemerintah untuk para aktivis. Jiwanya yang tak pernah tenang, membuat Gie merasa berada di simpang jalan, tanpa teman.

Kecintaan untuk menulis, tak terlepas dari sebuah kamar tidurnya yang remang dengan kumpulan nyamuk—selalu memberinya inspirasi di setiap malam untuk mengetik segala kegelisahannya. Tulisan Gie tajam, menggigit, sinis, dan terus terang. Menjadikan karyanya dikenal—mulai dari puisi, sajak, artikelnya di surat kabar, bahkan skripsinya. Semua menjadi daya tarik bagi para peneliti dan para pejuang integritas.

Dan hanya kecintaannya terhadap alamlah yang mengobati kepenatannya pemikirannya akan pemerintahan saat itu. Gie bergabung dengan Mapala-UI, dan telah mendaki berbagai gunung di Indonesia. Bercengkrama dengan alam, membuat Gie lebih nyaman. “Kehidupan baru yang lebih menarik, dengan kebesaran manusia yang lebih mulia,” demikian harapan Gie di puncak-puncak pendakian.

Tempat Peristirahatan Terakhir

Indah dan mencekam, dengan ketinggian 3.676 meter. Semeru dijuluki sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa, dan tertinggi ketiga di Indonesia. Gunung yang berlokasi di Jawa Timur inilah yang terpilih sebagai tempat peristirahatan terakhir Gie. Tepat sehari sebelum hari jadinya, yakni 16 Desember 1969, di usia yang masih sangat muda, 27 tahun kurang satu hari. Gie meninggal dunia, di puncak Gunung Semeru bersama Idhan Lubis kawannya, karena terlalu banyak menghirup belerang yang beracun.

Gie merupakan aktivis, dosen, dan tokoh muda inspiratif. Setelah sepeninggalnya, Gie hanya mewariskan catatannya. Skripsi strata satunya yang berjudul “Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan” (tentang pemberontakan PKI Madiun), telah dijadikan buku oleh Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, pada 1997. Film mengenai Gie pun telah dirilis dengan Nicholas Saputra sebagai tokoh utamanya. Berbagai buku tentang Gie juga ditulis oleh masing-masing sahabatnya.

Begitu besar apresiasi masyrakat terhadap sosok sederhana Gie. Jiwa yang idealis, menjadi nuansa baru di tengah kemunafikan. Karena kenangan tentang Gie hanya pada alam pikiran saja, makamnya pun telah digusur di daerah Tanah Abang-Jakarta. Andai Gie masih hidup hingga saat ini, apa yang akan dia lakukan ?


“Seorang filsuf Yunani pernah menulis, ‘Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua terlahir tetapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua’. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” (Soe Hok Gie; 1962—7 tahun sebelum kematiannya).


Foto Bulan Ini





Kamis, 08 Januari 2015

Peta GOR Tamsel



Rabu, 24 Desember 2014

Quote of the Month: Desember 2014

KICK!
Kalau tidak sekarang, kapan?

Ahmad Nabil Faqih: Jika Elemen TI Bersatu, Akan Ada Atlet Nasional Naik Podium Olimpiade


Agaknya tidak terlalu berlebihan apabila pernyataan di atas diketengahkan sebagai judul tulisan ini. Menjadi sesuatu yang terkesan utopis seandainya mimpi untuk merengkuh titel Olimpiade itu, tidak dibarengi dengan upaya dan kerja keras yang nyata dari semua pihak. Optimisme atlet senior yang telah memberikan banyak kontribusinya bagi prestasi taekwondo Indonesia ini begitu tinggi, mengingat pembinaan atlet-atlet nasional yang selama ini berjalan sebenarnya telah memiliki arah untuk mewujudkan impian tersebut. Ditambah lagi menurutnya concern dan perhatian para stakeholders sangat tinggi bagi upaya mewujudkan harapan tersebut. Tinggal persoalannya ada pada sinergi antar pihak dalam mewujudkan cita-cita dan harapan itu.

Hal ini diakui oleh atlet nasional Ahmad Nabil, ketika dikonfirmasi mengenai perkembangan pembinaan taekwondo Tanah Air. Menurutnya, peluang Indonesia untuk menempatkan wakilnya di podium Olimpiade terbuka cukup lebar. “Saya sangat yakin akan ada atlet taekwondo kita yang naik podium Olympic. Syaratnya semua pihak harus bersatu untuk memajukan taekwondo Indonesia menjadi lebih hebat lagi,” ujarnya. Atlet andalan Indonesia ini mengingatkan bahwa persatuan adalah harga yang harus dibayar untuk mewujudkan prestasi bertaraf dunia.

Selain itu, imbuhnya, program pembinaan atlet nasional yang selama ini telah berjalan agar terus dijaga kualitasnya. Sebagai salah satu atlet senior, ia turut memberikan catatan tentang pembinaan jangka panjang yang terus digalakkan Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) melalui program Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).

“Pelatnas yang tengah berjalan saya rasa sudah sangat baik, hanya saja problem gonta-ganti pelatih mungkin bisa lebih diminimalisir. Pelatih baru, artinya program baru dan kebiasaan baru. Atlet lagi-lagi harus menyesuaikan dengan style yang terus berubah-ubah,” tukasnya.

Baginya, konsistensi menjalankan program adalah unsur terpenting dalam sebuah pembinaan olahraga. Namun menyadari begitu kompleksnya manajemen sebuah cabang olahraga, pihaknya mendukung apapun upaya yang ditempuh dalam rangka pembenahan kualitas pembinaan atlet. Ia menyadari bahwa program prestasi taekwondo Indonesia tidak bisa serta merta dilakukan secara instan, semua butuh proses, dan semua pihak juga harus bersabar. Semua faktor terlibat. Dari atlet itu sendiri, pelatih, manajemen di pelatnas, pengurus di daerah, PBTI, hingga peran pemerintah. Faktor-faktor itu yang ia maksud bahwa upaya menuju prestasi taekwondo Indonesia sangat kompleks dan membutuhkan fokus kerja keras dan kinerja yang baik.

Menjadi Juara Sejati

Pemilik nama lengkap Ahmad Nabil Faqih ini tak ketinggalan menularkan semangat bagi atlet muda yang tengah merintis karir profesionalnya di dunia olahraga. “Untuk menjadi juara itu mudah dan simpel, hanya giat berlatih dan berdoa. Namun untuk menjadi seorang juara sejati sangat sulit, dibutuhkan disiplin dan konsistensi yang sungguh-sungguh agar bisa terus berprestasi,”

“ Jangan juga berdoa supaya jago, karena jutaan atlet banyak yang jago, berdoalah agar anda menjadi atlet yang bertalenta penuh karakter dan etika. Niscaya dengan begitu perjalanan karirnya akan bertahan lama”. Imbuhnya

Pernyataan tersebut tidak berlebihan, mengingat perjuangan menuju pentas Olimpiade tidaklah mudah. Apalagi prestasi taekwondoin nasional di beberapa kompetisi multi even masih mengalami pasang surut. Tanpa diimbangi mentalitas yang kuat, niscaya prestasi taekwondo Indonesia tidak akan berkembang. Tidak tertutup kemungkinan berbagai pihak akan saling lempar tanggung jawab, baik itu manajemen, pelatih, atlet hingga pecinta taekwondo Tanah Air yang begitu merindukan ‘Indonesia Raya’ berkumandang di pentas dunia.

Juara sejati bagi atlet kelahiran 11 Januari 1988 silam ini, berarti pembelajaran terus-menerus. “Kalah menang itu tidaklah penting, yang terpenting adalah performance di setiap pertarungan dapat terus lebih baik dari waktu ke waktu,” tukasnya. Dengan sikap semacam ini, sekalipun tim nasional kita menuai kekalahan di berbagai ajang, tak akan menyurutkan motivasi untuk mencapai target-target berikutnya.

Prinsip ini ternyata benar-benar ditunjukkan oleh lajang bertinggi badan 173 cm ini. Nabil tak segan menceritakan perjalanannya ketika mengundurkan diri dari Pelatnas karena performanya dinilai telah menurun.

“Manajemen Pelatnas menilai performa saya turun berdasarkan hasil try out di Tiongkok. Akhirnya saya tidak direkomendasikan untuk ikut Asian Games. Karena saya juga ingin melanjutkan studi S1 yang sempat tertunda, saya putuskan untuk mundur saja dari Pelatnas pertengahan tahun ini,” ujarnya. Tidak banyak atlet yang mau menerima koreksi dan mengakui bahwa performanya tidak dalam kemampuan terbaik. Ia memilih untuk menerima kekurangan dan berupaya meningkatkan kualitas bertandingnya, sekalipun saat ini tidak lagi bergabung dalam skuat Pelatnas.

Disinggung mengenai perkembangan talenta-talenta muda, dirinya menyangkal apabila regenerasi atlet-atlet daerah dinilai berjalan lambat. Menurutnya, gencarnya prestasi atlet-atlet jebolan Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) menunjukkan bahwa geliat pembinaan bibit-bibit muda berjalan cukup intensif. “Tidak bisa dibilang lambat. Melihat berkembangnya banyak PPLP di berbagai daerah menunjukkan sudah ada pembibitan dari usia dini,” ucapnya penuh optimisme.

Hidup harus terus berjalan, begitupun dengan pembinaan taekwondo di Tanah Air. Nabil meyakini prestasi taekwondo nasional masih akan bersinar di masa yang akan datang. Kecintaannya terhadap olahraga yang turut melambungkan namanya, mendorong pria yang sebentar lagi akan melepas status lajangnya dengan Dewi Puspitasari mantan atlet pelatnas asal Jateng yang juga finalis Miss Indonesia 2014 ini, untuk terus menggeluti dunia taekwondo. Tidak bisa membela tim nasional, ia akan memfokuskan diri berlatih mewakili daerah di ajang-ajang prestisius dalam negeri, termasuk Pekan Olahraga Nasional 2016 mendatang. Jika pensiun pun, ia akan mendedikasikan dirinya membina bibit-bibit muda taekwondo nasional dengan membuka dojang.

“Harapan saya semua pihak nantinya dapat bersinergi, sama-sama bersatu agar taekwondo Indonesia bisa lebih berprestasi lagi. Prestasi dunia yang diimpikan setiap atlet yaitu podium Olimpiade,” ia juga berpesan kepada para taekwondoin yang saat ini tengah berjibaku mengejar prestasi yang terbaik, “tutupnya penuh harap. (vip/adt)


Sumber: http://taekwondoindonesianews.wordpress.com/2014/11/12/ahmad-nabil-faqih-jika-elemen-ti-bersatu-akan-ada-atlet-nasional-naik-podium-olimpiade/#more-432

Selasa, 18 November 2014

Foto Bulan Ini





Kamis, 13 November 2014

Mutiara Habiba, Mutiara Itu Terpoles dengan Baik di Pelatnas

Sumber: http://taekwondoindonesianews.wordpress.com


Ibarat Mutiara yang terpendam, siapa nyana, bocah kecil yang dulu cengeng sekarang telah menjelma menjadi taekwondoin nasional yang berprestasi. Prestasinya mulai melejit di arena 2nd Asian Junior Taekwondo Poomsae Championship, Jakarta 2013. Di kejuaraan bergengsi ini ia meraih perunggu di kelas berpasangan.

Setelah kejuaraan itu, prestasinya terus melaju mewarnai beberapa kejuaraan poomsae bergengsi. Pada Islamic Solidarity Games, Palembang 2013, ia menyabet posisi ke tiga untuk kelas beregu putri. Di 8th World Taekwondo Poomsae Championship, Bali 2013 – ia menyodok posisi kedua di podium untuk kelas beregu putri.

Habiba, demikian panggilan akrabnya, pun tak menyangka dirinya akan moncer berprestasi di laga poomsae taekwondo. “Awalnya dulu ikut les gambar. Tapi karena aku cengeng, aku disuruh buat ikut latihan bela diri saja. Kebetulan di dekat rumah ada club taekwondo dan langsung didaftarkan oleh orangtuaku,” katanya.

Awalnya, oleh pelatihnya ia dipilih untuk mendalami cabang kyorugi, mengingat postur tubuhnya yang tinggi. Namun, sesudah beberapa kali turun berlaga di beragam kejuaraan, bintangnya belum bersinar. Sampai-sampai Habiba agak kehilangan semangat dan enggan untuk bertanding.

“Karena aku orangnya tinggi dan kurus, kata pelatih aku itu cocok jadi atlet. Lalu aku disuruh ikut pemusatan atlet untuk kyourugi. Tapi setelah ikut beberapa pertandingan kyourugi, aku gak pernah menang. Sejak itu aku males ikut pertandingan lagi. Lagipula saat itu aku sudah kelas 6, Sekolah Dasar (SD) , mulai fokus ujian,” ujar penyuka ikan ini.

Usai lulus SD, pelatihnya menawarinya untuk mendalami poomsae dan menerjunkannya di sebuah kejuaraan poomsae di Semarang, sang mutiara mulai terasah dan bersinar terang. Pada debutnya ini ia menyabet juara tiga.

“Setelah lulus SD, pelatih nawarin aku buat ikut kejuaraan poomsae. Dulu tuh poomsae peminatnya masih sedikit banget. Makanya aku bisa langsung dapat perunggu di tingkat kota Semarang. Semenjak itu, aku mulai fokus buat jadi atlet poomsae. Banyak pengalaman yang gak bisa didapetkan anak anak yang cuma asal ikutan aja. Bisa maju di podium tuh rasanya seneng banget. Apalagi karena piagam yang aku dapat, aku bisa masuk ke salah satu SMA favorit di Semarang. Di kejuaraan POPDA Jawa Tengah tahun 2011, aku main beregu putri dan bisa dapat emas,” ujar Habiba dengan semangat.

Kiprah mahasiswi Universitas Semarang di dunia taekwondo pun semakin menggeliat. Setelah sempat tidak lolos pada seleksi tim inti PORPROV Semarang 2013, Habiba malah lolos dalam seleksi bergabung di Pelatnas 2013. Meskipun demikian ia tetap rendah hati menyikapi prestasinya tersebut.

“Alhamdulillah, aku bersyukur banget bisa terpilih di seleksi Pelatnas yang kedua itu. Menurutku itu karena faktor keberuntungan saja. Aku kan tidak lebih bagus dari yang lain. Tapi mungkin aku terpilih karena postur tubuhku yang tinggi,” tukas gadis yang mengidolakan taekwodoin asal Filipina Mikaela Calamba ini.

Di kawah Chandradimuka PBTI inilah mutiara terpendam ini dipoles sehingga mulai berkilau. Habiba bertekad untuk berlatih secara maksimal. Amanah yang diembannya itu tidak ingin ia sia-siakan.

Nuansa persaingan yang ketat dan pola latihan yang terstruktur dengan baik sangat mendorong perubahan dirinya. Habiba mengakui awalnya cukup nervous menghadapi perubahan drastis ketika masuk pelatnas. Apalagi ia digadang-gadang untuk maju ke kejuaraan Asia Junior.

“Tahun 2013, kita atlet pelatnas sudah mulai padat schedule kejuaraan. Pertama, kejuaraan Asia Junior di Jakarta. Itu adalah kejuaraan internasionalku yang pertama kali. Aku main di kelas beregu putri dan beregu freestyle. Di situ aku bener-bener ngerasain banget nervous yang luar biasa, karna aku tuh tipe orang yang demam panggung,” ungkapnya.

Ia mengakui dukungan rekan dan kebersamaan sesama atlet Pelatnas sangat membantunya untuk bisa segera beradaptasi dan mempunyai motivasi tinggi. Habiba tak menyangka akan bisa bertahan lama di pelatnas. Karena persaingan dan seleksinya sangat ketat.

“Selama di Pelatnas, aku termotivasi banget sama teman aku yang namanya Defia asal Bogor. Dia lebih senior, tapi umur kita tidak jauh beda. Menurutku dia itu atlet poomsae berbakat, tendangannya juga tinggi sekali. Apalagi ia tergolong pekerja keras. Jadi aku gak mau kalah sama dia. Walaupun kita teman dekat. Kita tetap bersaing, tetapi bersaing secara sehat. Dengan saling mendukung satu sama lain,” terang putri dari Supangkat Sudiasmara ini

Ingin memberikan prestasi terbaik bagi bangsa dan jadi kebanggaan orangtua adalah motivasi yang selalu mendorongnya untuk berlatih dan bertanding secara maksimal.

“Aku gak ingin menyia-nyiakan waktu selama di Pelatnas dan selalu ingin bisa lebih bagus dari yang lain. Lagipula kesempatan buat jadi atlet Pelatnas itu tidak semua orang bisa. Banyak banget yang masuk ke situ. Jadi aku selalu bertekad untuk jadi yang terbaik ketika di atas matras saat berlatih maupun bertanding. Dulu cuma bisa jadi penonton SEA GAMES ke 26 lalu di Jakarta dan terkagum-kagum dengan mbak Lessitra Draningrati, atlet poomsae putri terbaik Indonesia saat itu. Sekarang, aku sudah bisa merasakan menjadi atlet kebanggaan Indonesia, dan mengikuti ajang bergengsi SEA GAMES 2013 di Myanmar,” pungkasnya sambil menerawang.

Kamis, 30 Oktober 2014

Jakarta Taekwondo Festival

JAKARTA TAEKWONDO FESTIVAL

Proposal Kejuaraan Jakarta Taekwondo Festival (JTF) 14 - 16 November 2014 dapat diunduh di sini/ klik gambar.

Rabu, 22 Oktober 2014

Aku Tidak Menyerah!

Aku Tidak Menyerah!
Sumber: http://andriewongso.com/articles

Kita lahir, hidup, dewasa, hingga mati adalah proses alami kehidupan yang tak ada satu pun makhluk yang tak mengalami. Dalam proses itulah, kita menjadi apa adanya hari ini. Sayang,  banyak orang yang kadang malah kurang menikmati atau kurang sabar akan adanya proses. Bisa jadi, semua itu dipengaruhi oleh lingkungan yang makin hari makin serba instan—padahal, untuk jadi “instan” pun sebenarnya semua butuh proses.

Sbm teringat sebuah kisah tentang proses yang luar biasa. Begini ceritanya:

Ada seorang pria bernama Takezo. Ia adalah seorang pria yang putus asa dan mau meninggalkan semuanya, baik pekerjaan, hubungan sosial, dan bahkan hendak bunuh diri karena merasa sudah tak punya arti dalam kehidupannya. Sebelum melakukan itu semua, ia menyempatkan pergi ke hutan untuk berbicara yang terakhir kalinya dengan seorang bijak bernama Takuan. Ia bertanya, “Apakah Takuan bisa memberi aku satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah?”

Mendengar pertanyaan itu, Takuan dengan kebijakannya menjawab, “Coba lihat sekitarmu Takezo. Apakah kau melihat pohon pakis dan bambu itu?”
“Ya aku lihat itu,” jawab Takezo.
“Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, alam merawat keduanya secara sangat baik. Alam memberi keduanya cahaya, dan memberi air. Pakis tumbuh sangat cepat di bumi, daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan. Tapi ketahuilah, sementara pakis tumbuh sangat subur, benih bambu tidak menghasilkan apa pun. Tapi, bambu berkata, ‘Aku tidak menyerah’,” sebut Takuan menyampaikan filosofinya.

“Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin subur dan banyak, tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu. Tapi kembali bambu berkata, ‘Aku tidak menyerah’. Di tahun ketiga, bambu belum juga memunculkan sesuatu. Lagi-lagi bambu berkata, ‘Aku tidak menyerah’. Seterusnya di tahun keempat, masih juga belum ada apa pun dari benih bambu. Ia tetap berkata, ‘Aku tidak menyerah’. Kemudian, pada tahun kelima, muncul tunas kecil. Jika dibandingkan dengan pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna,” jelas Takuan pada Takezo. “Tapi, lihatlah enam bulan kemudian. Bambu tumbuh menjulang sampai 100 kaki!”

“Begitulah, untuk menumbuhkan akar bambu perlu waktu lima tahun. Akar tersebut membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu agar mampu bertahan hidup,” terang Takuan. “Ingat, Sang Pencipta tak akan memberi cobaan yang tak sanggup diatasi ciptaan-Nya.”

Takezo pun termenung mendengar semua ucapan Takuan yang kemudian melanjutkan nasihatnya, “Tahukah kau, Takezo… Di saat menghadapi semua kesulitan dan perjuangan berat ini, kau sebenarnya sedang menumbuhkan akar-akar yang kuat? Sebagaimana alam tidak meninggalkan bambu, Sang Pencipta juga tidak meninggalkan kamu. Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pakis. Tapi keduanya tetap punya manfaat membuat hutan menjadi indah.”

“Nah Takezo, waktu kamu akan datang. Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi. Asal tetap mengandalkan Sang Pencipta dalam setiap rencana dan jalan hidupmu.”

===

Cerita tersebut merupakan sepenggal percakapan Takezo sebelum menjadi Miyamoto Musashi, pendekar Samurai yang sangat terkenal, yang Sbm ceritakan ulang dalam tulisan ini. Kisah tersebut menggambarkan terjadinya proses yang alami, lambat, namun justru di sanalah mengakar kekuatan yang sebenarnya dari batang-batang bambu.

Itulah penggambaran adanya proses kehidupan yang masing-masing makhluk punya jalan dan kisahnya sendiri-sendiri. Maka, ketika rasa pahit dan getir yang kita terima saat ini, jangan pernah putus asa. Sebab, saat itulah kita sedang berproses untuk mengakar kuat dan saatnya nanti menjelma menjadi “batang bambu” yang menjulang ke angkasa. Dan, dengan akar yang kuat itulah kita akan jauh lebih tegar dan kuat saat kembali dihempas angin.

Mari, kita lihat kembali berbagai proses yang kita alami dalam kehidupan. Nikmati, resapi, hayati, nilai-nilai apa yang bisa menjadi pegangan bagi kita untuk berbuat lebih baik dan lebih baik lagi. Jika itu terus kita lakukan, niscaya hasil apa pun yang kita terima, sebenarnya kita telah jadi pemenang sejati kehidupan.

Selasa, 14 Oktober 2014

Quote


"Kau hanya akan bisa bertarung sama seperti bagaimana kau berlatih. Tak lebih."

*Miyamoto Musashi*