Rabu, 23 November 2016

Foto Bulan Ini



Informasi lebih lanjut, pendaftaran, dsb, hubungi:
0857 1612 0064

Instagram: @mktcpusat

Alamat Dojang Pusat:
Ruko Premier Serenity, No. J06
Jl. KH. Agus Salim
Kel. Bekasi Jaya, Kec. Bekasi Timur, Kota Bekasi
(dekat SMA N 1 Bekasi)








Jumat, 04 Maret 2016

Khasoes untuk Kota Bekasi



Tepat tanggal 17-20 Februari 2016, Pengprov TI Jawa Barat mengadakan event resmi yaitu Kejurda 2016 yang bertempat di GOR Padepokan Volly, Sentul, Kab. Bogor. Tujuan event ini di selenggarakan adalah untuk menyaring atau menseleksi atlit dari berbagai daerah di Jawa Barat dan mewakili Provinsi Jawa Barat pada PON 2016. Khasoes Kota Bekasi sendiri menurunkan 5 atlitnya untuk bergabung bersama Taekwondo Kota Bekasi untuk bertanding dalam Kejurda 2016, yaitu Bagus Suradi (Over 87kg), Safira Nurunnazma (Under 62kg), Khansa Syafitri (Senior Poomsae Individual Female), Gilang & Sabathini Anggi (Poomsae Pair). Dalam kesempatan ini, mereka membawa pulang 1 Emas & Piala Atlit Terbaik Senior Putri (Safira Nurunnazma) dan 1 Perunggu (Bagus Suradi), sedangkan Khansa Syafitri lolos ke babak Final dan Gilang & Anggi harus kalah di penyisihan. Taekwondo Kota Bekasi pun membawa 9 Medali & 1 Piala Atlit Terbaik Senior Putri (1 Emas, 1 Perak, dan 7 Perunggu).

Setelah melewati event Kejurda 2016, Taekwondo Kota Bekasi akan mempersiapkan beberapa atlit untuk bertanding di POPDA 2016 dan PORDA 2018.

Senin, 12 Januari 2015

Tentang Gie

Moners didirikan oleh Master Simon. Tapi Moners Khasoes BUKAN milik Master Simon.
Khasoes dibangun oleh Sbm Nim Sahrul. Tapi Khasoes BUKAN milik Sbm Nim Sahrul.
Khasoes pun BUKAN milik Sbm Okie.
Kami sudah tua. Kini, kami amanahkan pada kalian.

KHASOES adalah milik PEMUDA!
Kepada KALIAN, kami berharap!



Semoga, kisah Gie berikut, dapat memberikan inspirasi bagi kalian.

(sumber: http://www.andriewongso.com/articles/details/14204/Tentang-Gie)

“Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau, kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia.”

Itulah sepenggal rangkaian kalimat Soe Hok Gie. Ia pemuda keturunan Tionghoa, yang berperan serta menjadikan Indonesia berada dalam pembabakan sejarah. Jakarta, menjadi awal kisahnya. Tepat pada 17 Desember 1942, hari kelahirannya. Gie, begitu biasa dia dipanggil, menjelma sebagai bocah yang penuh dengan pemikiran kritis. Anak keempat dari lima bersaudara ini, memang sangat pendiam. Dari kecil, buku dan catatan tulisannya yang menemani harinya.

Ketika duduk di bangku menengah pertama (SMP), Gie sempat mengkritik gurunya, hingga memancing kemarahan sang guru. Alhasil nilai Gie pun dikurangi. Karakternya yang keras dan penuh pemikiran, membuat kemampuannya dalam mengemukakan pendapat semakin terasa. Saat beranjak remaja hatinya tersentak, melihat pengemis yang memakan kulit buah mangga. Padahal tak jauh dari tempat sang pengemis, terdapat bangunan besar tempat paduka dan istrinya tertawa riang.

Pernah suatu ketika, pemerintah mengharuskan pergantian nama bagi para suku non pribumi. Gie bersikukuh tidak mau mengganti namanya. “Apalah arti sebuah nama?” ucap Gie kepada kakaknya Arif Budiman (Soe Hok Djin) yang membujuknya. Gie pun selalu mengatakan hanya ingin menjadi orang bebas yang idealis.

Setelah melewati pendidikan SMA di Kanisius. Gie melanjutkan sekolah tingginya, di Universitas Indonesia, Fakultas Sastra-Jurusan Sejarah. Di “kolam kuning” inilah, Gie bersama teman-temannya berada pada gardu terdepan untuk menggulingkan kekuasaan yang tidak berpihak kepada rakyat. Salah satunya ketika meletus demonstrasi besar di Jakarta tahun 1966, yang dikenal sebagai Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat).

Serangannya terhadap pemerintahan saat itu terus bergemuruh. Gie dikenal sebagai aktivis yang paling berprinsip. Karena hanya Gie-lah, yang bertahan terhadap penawaran kekuasaan oleh pemerintah untuk para aktivis. Jiwanya yang tak pernah tenang, membuat Gie merasa berada di simpang jalan, tanpa teman.

Kecintaan untuk menulis, tak terlepas dari sebuah kamar tidurnya yang remang dengan kumpulan nyamuk—selalu memberinya inspirasi di setiap malam untuk mengetik segala kegelisahannya. Tulisan Gie tajam, menggigit, sinis, dan terus terang. Menjadikan karyanya dikenal—mulai dari puisi, sajak, artikelnya di surat kabar, bahkan skripsinya. Semua menjadi daya tarik bagi para peneliti dan para pejuang integritas.

Dan hanya kecintaannya terhadap alamlah yang mengobati kepenatannya pemikirannya akan pemerintahan saat itu. Gie bergabung dengan Mapala-UI, dan telah mendaki berbagai gunung di Indonesia. Bercengkrama dengan alam, membuat Gie lebih nyaman. “Kehidupan baru yang lebih menarik, dengan kebesaran manusia yang lebih mulia,” demikian harapan Gie di puncak-puncak pendakian.

Tempat Peristirahatan Terakhir

Indah dan mencekam, dengan ketinggian 3.676 meter. Semeru dijuluki sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa, dan tertinggi ketiga di Indonesia. Gunung yang berlokasi di Jawa Timur inilah yang terpilih sebagai tempat peristirahatan terakhir Gie. Tepat sehari sebelum hari jadinya, yakni 16 Desember 1969, di usia yang masih sangat muda, 27 tahun kurang satu hari. Gie meninggal dunia, di puncak Gunung Semeru bersama Idhan Lubis kawannya, karena terlalu banyak menghirup belerang yang beracun.

Gie merupakan aktivis, dosen, dan tokoh muda inspiratif. Setelah sepeninggalnya, Gie hanya mewariskan catatannya. Skripsi strata satunya yang berjudul “Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan” (tentang pemberontakan PKI Madiun), telah dijadikan buku oleh Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, pada 1997. Film mengenai Gie pun telah dirilis dengan Nicholas Saputra sebagai tokoh utamanya. Berbagai buku tentang Gie juga ditulis oleh masing-masing sahabatnya.

Begitu besar apresiasi masyrakat terhadap sosok sederhana Gie. Jiwa yang idealis, menjadi nuansa baru di tengah kemunafikan. Karena kenangan tentang Gie hanya pada alam pikiran saja, makamnya pun telah digusur di daerah Tanah Abang-Jakarta. Andai Gie masih hidup hingga saat ini, apa yang akan dia lakukan ?


“Seorang filsuf Yunani pernah menulis, ‘Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua terlahir tetapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua’. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” (Soe Hok Gie; 1962—7 tahun sebelum kematiannya).


Foto Bulan Ini





Kamis, 08 Januari 2015

Peta GOR Tamsel



Rabu, 24 Desember 2014

Quote of the Month: Desember 2014

KICK!
Kalau tidak sekarang, kapan?

Ahmad Nabil Faqih: Jika Elemen TI Bersatu, Akan Ada Atlet Nasional Naik Podium Olimpiade


Agaknya tidak terlalu berlebihan apabila pernyataan di atas diketengahkan sebagai judul tulisan ini. Menjadi sesuatu yang terkesan utopis seandainya mimpi untuk merengkuh titel Olimpiade itu, tidak dibarengi dengan upaya dan kerja keras yang nyata dari semua pihak. Optimisme atlet senior yang telah memberikan banyak kontribusinya bagi prestasi taekwondo Indonesia ini begitu tinggi, mengingat pembinaan atlet-atlet nasional yang selama ini berjalan sebenarnya telah memiliki arah untuk mewujudkan impian tersebut. Ditambah lagi menurutnya concern dan perhatian para stakeholders sangat tinggi bagi upaya mewujudkan harapan tersebut. Tinggal persoalannya ada pada sinergi antar pihak dalam mewujudkan cita-cita dan harapan itu.

Hal ini diakui oleh atlet nasional Ahmad Nabil, ketika dikonfirmasi mengenai perkembangan pembinaan taekwondo Tanah Air. Menurutnya, peluang Indonesia untuk menempatkan wakilnya di podium Olimpiade terbuka cukup lebar. “Saya sangat yakin akan ada atlet taekwondo kita yang naik podium Olympic. Syaratnya semua pihak harus bersatu untuk memajukan taekwondo Indonesia menjadi lebih hebat lagi,” ujarnya. Atlet andalan Indonesia ini mengingatkan bahwa persatuan adalah harga yang harus dibayar untuk mewujudkan prestasi bertaraf dunia.

Selain itu, imbuhnya, program pembinaan atlet nasional yang selama ini telah berjalan agar terus dijaga kualitasnya. Sebagai salah satu atlet senior, ia turut memberikan catatan tentang pembinaan jangka panjang yang terus digalakkan Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) melalui program Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).

“Pelatnas yang tengah berjalan saya rasa sudah sangat baik, hanya saja problem gonta-ganti pelatih mungkin bisa lebih diminimalisir. Pelatih baru, artinya program baru dan kebiasaan baru. Atlet lagi-lagi harus menyesuaikan dengan style yang terus berubah-ubah,” tukasnya.

Baginya, konsistensi menjalankan program adalah unsur terpenting dalam sebuah pembinaan olahraga. Namun menyadari begitu kompleksnya manajemen sebuah cabang olahraga, pihaknya mendukung apapun upaya yang ditempuh dalam rangka pembenahan kualitas pembinaan atlet. Ia menyadari bahwa program prestasi taekwondo Indonesia tidak bisa serta merta dilakukan secara instan, semua butuh proses, dan semua pihak juga harus bersabar. Semua faktor terlibat. Dari atlet itu sendiri, pelatih, manajemen di pelatnas, pengurus di daerah, PBTI, hingga peran pemerintah. Faktor-faktor itu yang ia maksud bahwa upaya menuju prestasi taekwondo Indonesia sangat kompleks dan membutuhkan fokus kerja keras dan kinerja yang baik.

Menjadi Juara Sejati

Pemilik nama lengkap Ahmad Nabil Faqih ini tak ketinggalan menularkan semangat bagi atlet muda yang tengah merintis karir profesionalnya di dunia olahraga. “Untuk menjadi juara itu mudah dan simpel, hanya giat berlatih dan berdoa. Namun untuk menjadi seorang juara sejati sangat sulit, dibutuhkan disiplin dan konsistensi yang sungguh-sungguh agar bisa terus berprestasi,”

“ Jangan juga berdoa supaya jago, karena jutaan atlet banyak yang jago, berdoalah agar anda menjadi atlet yang bertalenta penuh karakter dan etika. Niscaya dengan begitu perjalanan karirnya akan bertahan lama”. Imbuhnya

Pernyataan tersebut tidak berlebihan, mengingat perjuangan menuju pentas Olimpiade tidaklah mudah. Apalagi prestasi taekwondoin nasional di beberapa kompetisi multi even masih mengalami pasang surut. Tanpa diimbangi mentalitas yang kuat, niscaya prestasi taekwondo Indonesia tidak akan berkembang. Tidak tertutup kemungkinan berbagai pihak akan saling lempar tanggung jawab, baik itu manajemen, pelatih, atlet hingga pecinta taekwondo Tanah Air yang begitu merindukan ‘Indonesia Raya’ berkumandang di pentas dunia.

Juara sejati bagi atlet kelahiran 11 Januari 1988 silam ini, berarti pembelajaran terus-menerus. “Kalah menang itu tidaklah penting, yang terpenting adalah performance di setiap pertarungan dapat terus lebih baik dari waktu ke waktu,” tukasnya. Dengan sikap semacam ini, sekalipun tim nasional kita menuai kekalahan di berbagai ajang, tak akan menyurutkan motivasi untuk mencapai target-target berikutnya.

Prinsip ini ternyata benar-benar ditunjukkan oleh lajang bertinggi badan 173 cm ini. Nabil tak segan menceritakan perjalanannya ketika mengundurkan diri dari Pelatnas karena performanya dinilai telah menurun.

“Manajemen Pelatnas menilai performa saya turun berdasarkan hasil try out di Tiongkok. Akhirnya saya tidak direkomendasikan untuk ikut Asian Games. Karena saya juga ingin melanjutkan studi S1 yang sempat tertunda, saya putuskan untuk mundur saja dari Pelatnas pertengahan tahun ini,” ujarnya. Tidak banyak atlet yang mau menerima koreksi dan mengakui bahwa performanya tidak dalam kemampuan terbaik. Ia memilih untuk menerima kekurangan dan berupaya meningkatkan kualitas bertandingnya, sekalipun saat ini tidak lagi bergabung dalam skuat Pelatnas.

Disinggung mengenai perkembangan talenta-talenta muda, dirinya menyangkal apabila regenerasi atlet-atlet daerah dinilai berjalan lambat. Menurutnya, gencarnya prestasi atlet-atlet jebolan Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) menunjukkan bahwa geliat pembinaan bibit-bibit muda berjalan cukup intensif. “Tidak bisa dibilang lambat. Melihat berkembangnya banyak PPLP di berbagai daerah menunjukkan sudah ada pembibitan dari usia dini,” ucapnya penuh optimisme.

Hidup harus terus berjalan, begitupun dengan pembinaan taekwondo di Tanah Air. Nabil meyakini prestasi taekwondo nasional masih akan bersinar di masa yang akan datang. Kecintaannya terhadap olahraga yang turut melambungkan namanya, mendorong pria yang sebentar lagi akan melepas status lajangnya dengan Dewi Puspitasari mantan atlet pelatnas asal Jateng yang juga finalis Miss Indonesia 2014 ini, untuk terus menggeluti dunia taekwondo. Tidak bisa membela tim nasional, ia akan memfokuskan diri berlatih mewakili daerah di ajang-ajang prestisius dalam negeri, termasuk Pekan Olahraga Nasional 2016 mendatang. Jika pensiun pun, ia akan mendedikasikan dirinya membina bibit-bibit muda taekwondo nasional dengan membuka dojang.

“Harapan saya semua pihak nantinya dapat bersinergi, sama-sama bersatu agar taekwondo Indonesia bisa lebih berprestasi lagi. Prestasi dunia yang diimpikan setiap atlet yaitu podium Olimpiade,” ia juga berpesan kepada para taekwondoin yang saat ini tengah berjibaku mengejar prestasi yang terbaik, “tutupnya penuh harap. (vip/adt)


Sumber: http://taekwondoindonesianews.wordpress.com/2014/11/12/ahmad-nabil-faqih-jika-elemen-ti-bersatu-akan-ada-atlet-nasional-naik-podium-olimpiade/#more-432